Ketua Seminari Wanita Ortodoks Zionis Kelabui 100-an Wanita Untuk Berhubungan Seks Dengannya

20 Juli 2015
Sumber: Failed Messiah

Sekitar 100 wanita mengaku dipikat untuk berhubungan dengan pria Ortodoks Zionis berkeluarga yang mengelabui mereka agar percaya bahwa dia adalah perwira IDF. “Dia mengirimi kami semua foto dari Gaza, meminta kami mendoakannya, padahal dia tak di sana,” kata salah seorang. Di mana dia? Di seminari Ortodoks Zionis khusus gadis yang diketuainya.

Israel HaYom memberitakan:

Seorang pria berkeluarga yang berpose sebagai perwira tinggi militer mengecoh lusinan wanita ke dalam hubungan intim setelah bertemu secara daring dan memintal jejaring dusta yang dirancang untuk menghimpun simpati, demikian kabar yang didapat Israel HaYom.

Pria tersebut, yang ternyata sudah beristri dan memiliki anak dan mengetuai seminari wanita Yahudi, memakai nama palsu dan mengatakan kepada para wanita bahwa dirinya adalah lajang berusia 38 tahun dari Israel tengah yang bergelar mayor di Brigade Prajurit Payung.

Setelah seorang wanita membuat grup Facebook yang membongkar pria ini, lebih dari 100 wanita lain bergabung, menyatakan mereka juga telah dibohongi dan disakiti olehnya. Aduan resmi pertama ke kepolisian diperkirakan akan didaftarkan pada hari Selasa.

Menurut kesaksian yang dibagi dengan Israel HaYom, pria ini bercerita bahwa dirinya pernah mengalami hubungan tragis di masa lalu, termasuk seorang kekasih yang terlindas dan tewas setelah menemaninya ke bandara, dan seorang lain melawan kanker di rumahsakit.

Pada waktu Operasi Protective Edge musim panas lalu, rupanya dia berkata kepada beberapa wanita bahwa dia ditempatkan di tengah-tengah Jalur Gaza, dan bahwa lima prajuritnya terbunuh di sampingnya. Dia mengirimkan foto-foto di dalam pengangkut personil lapis baja, sehingga menambah warna pada kisah-kisah dramatisnya, tutur para wanita.

“Dia bilang punya banyak uang, properti, dan koneksi keluarga,” ungkap B., seorang ibu tunggal berusia 36 tahun dari Israel tengah yang memulai hubungan dengannya pada Mei 2014. “Dia mengaku bekerja untuk Departemen Pertahanan di beberapa ‘perusahaan kedok’, yang salah satunya berusaha menelusuri pendanaan organisasi teroris.”

Di seminari tempatnya bekerja, pria ini berhubungan dekat dengan para gadis yang sedang menyelesaikan national service dan dengan kaum muda lain. (National service adalah sistem pengabdian/pelayanan wajib atau sukarela kepada pemerintah, biasanya pelayanan militer, juga dikenal sebagai wajib militer—penj.)

Menurut B., “Tak diragukan lagi dia psikopat. Begitu tenangnya dia menipu banyak wanita dalam kurun waktu selama itu. Dia jelmaan jahat. Berkali-kali dia bilang, “Keadaan akan segera berubah, saya akan selesaikan kewajiban pasukan cadangan dan pekerjaan ini, dan kita akan bebas pergi keluar sana dan menjalani hidup,” seolah dia berharap seorang wanita akan membawanya keluar dari neraka ini, dari muslihat terperinci ini. Dia mengaku agamis, padahal dia sangat jauh dari Tuhan dan agama.”

Seluruh diri Anda dicurahkan padanya saja

Salah seorang wanita yang mengaku disakiti olehnya melakukan penyelidikan luas, dan akhirnya mengunggah foto-foto keluarga pria ini di internet.

“Saya tak berniat mempostingnya di grup beranggotakan banyak wanita tak dikenal, tapi sudah cukup bagi saya jika berhasil menyelamatkan satu orang lain dari hal ini,” tulisnya.

B. menyebut penipuan memburuk selama Operasi Protective Edge.

“Dia menggunakan setiap keping informasi untuk memeras emosi, termasuk mengaku depresi lantaran rekan-rekannya tewas dalam pertempuran bersamanya,” tuturnya.

“Dia menulis kepada saya, ‘Kami mengalami pukulan telak. Banyak prajurit saya terbunuh,’ dan itu membuat hati saya remuk. Yang Anda pikirkan hanya komandan kompi di Brigade Prajurit Payung ini, dan seluruh diri Anda dicurahkan padanya saja.”

Seorang wanita 33 tahun dari Hod Hasharon berbagi pengalamannya, “Tak ada tulisan di wall. Dia masuk ke dalam karakter dan terperangkap sampai akhir. Sekarang saya mencemaskan gadis-gadis di seminari. Mereka ‘tergila-gila padanya’, dan dia berceramah tentang pendidikan. Saya menyimak ceramahnya soal pengendalian hasrat jahat. Itu mengejutkan. ‘Sihir’ ini harus dihentikan.”

Menurut Aya, ibu tunggal berumur 32 tahun, “Para wanita itu bicara tentang menempuh gugatan perdata. Jika semua melakukan ini, atau paling tidak isterinya memulai proses cerai, maka saya akan bergabung dengan mereka, dan begitu pula untuk aduan ke polisi. Sebentar lagi saya menikah, jadi memulai perkara ini sekarang tidaklah tepat.”

Iris, 39 tahun, dari Beersheba, menyatakan bertemu sang pendidik dalam aplikasi kencan Tinder: “Siapa sangka dia sudah menikah? Saya tahu dia agak agamis, dan dia menghilang setiap akhir pekan. Dia menjelajahi pelosok negara dalam seragam perwira yang memuat semua pangkat tepat. Dia tak pernah membuat blunder, dia sangat konsisten dengan ceritanya. Dia mengirimi kami gambar-gambar dari Gaza, meminta kami mendoakannya dan prajurit-prajuritnya—padahal dia tak ada di sana.”

Wanita lain, Hila berumur 39 tahun, bertemu dengannya di sebuah situs kencan enam tahun silam.

“Dia selalu minta bertemu di area sepi, bilangnya sudah bersama orang-orang sepanjang hari dan tak punya tenaga untuk berada di antara banyak orang,” ungkapnya. “Jujur, saya jatuh cinta padanya seketika. Saya sangat mendambakan hubungan [asmara]. Kebodohan jenis ini menimpa kita semua.”

Namun, pria itu tergelincir dalam mempertahankan konsistensi ceritanya, kata Hila.

“Menjelang akhir hubungan kami, dia bilang temannya sudah mati. Beberapa bulan kemudian, kami kembali menjalin kontak dan dia bilang terjadi mukjizat dan temannya bangun dari koma. Di mata saya, ada satu tema dominan dalam hubungan ini—seks. Itu saja yang ada di antara kami,” katanya.

Aya menambahkan, “Ada wanita-wanita yang tercabik olehnya, oleh cerita di mana dia selalu menjadi pahlawan. Cerita-cerita ini membuat Anda ingin lari memeluknya, melindunginya. Dia pandai bercerita, seperti kisah dongeng. Sekarang kita perlu menghentikan siklus sinting ini.”

Kepala seminari tempat pria ini bekerja mengirim sebuah pernyataan kepada Israel HaYom: “Tak ada keberpihakan dan tak ada tanggapan. Semuanya akan terungkap oleh polisi; gambaran berbeda akan mengemuka. Sampai sekarang, belum satupun dari wanita-wanita ini datang kepada saya dan mengadu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.